Minggu, 08 Desember 2013

Makalah Anfisman : Konsep Homeostatis

MAKALAH ANFISMAN
KONSEP HOMEOSTATIS

Disusun oleh :
Cahya Aulia
Aulia Dika Rhamadianti
Nadia Fidayani Dahrie
Ni Made Yulianda


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS FARMASI DAN SAINS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
JAKARTA
2013


BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Homeostasis berasal dari kata homeo berarti “yang sama” dan stasis berarti “berdiri atau diam”. Sherwood (2007) mendefinisikan homeostasis sebagai pemeliharaan lingkungan internal yang relatif stabil.
Makhluk hidup sejatinya senantiasa melakukan pertukaran dengan lingkungan, mengambil bahan yang diperlukan dan mengeluarkan zat-zat yang sudah tidak berguna dalam tubuh. Kita ambil contoh Amoeba misalnya. Amoeba mengambil oksigen dan nutrisi dari lingkungannya serta melepaskan zat sisa metabolisme ke lingkungan.
Apa yang terjadi pada tubuh manusia hampir sama meski tidak sama persis. Manusia mengambil zat-zat yang dibutuhkan dari lingkungan, serta mengeluarkan zat sisa (sampah) ke lingkungan. Tubuh manusia terdiri dari banyak sel tidak seperti Amoeba yang hanya terdiri dari satu sel. Bagi sel-sel tubuh terdapat dua lingkungan yaitu lingkungan eksternal dan lingkungan internal. Lingkungan eksternal adalah lingkungan dimana tubuh manusia hidup atau dapat dikatakan segala sesuatu yang berada di luar tubuh manusia. Lingkungan internal adalah lingkungan di luar sel namun berada di dalam tubuh.
Lingkungan internal berupa cairan plasma dan cairan interstisial. Ketika sel-sel tubuh memerlukan suatu asupan, dia tidak bisa langsung mengambilnya dari cairan ekstra sel, zat yang diperlukan akan diambil dari cairan interstisial yang dipasok oleh plasma darah. Ketika sel perlu mengeluarkan sisa metabolisme misalnya karbondioksida tidak bisa juga langsung dikeluarkan ke lingkungan eksternal, maka karbondioksida tersebut akan dikeluarkan ke cairan interstisial. Agar sisa metabolisme pada cairan interstisial tidak menumpuk maka sisa metabolisme tersebut dikeluarkan melalui plasma darah kemudian menuju alat-alat ekskresi dan akhirnya dikeluarkan ke lingkungan eksternal.
Plasma darah dan cairan interstisial diatur agar dapat mendukung kehidupan sel, tidak seperti Amoeba yang tidak dapat mengatur lingkungannya. Pengaturan keadaan lingkungan internal agar tetap stabil inilah yang disebut dengan homeostasis. Pemeliharaan lingkungan internal berupa komposisi, suhu dan karakteristik lainnya ini bukan berarti tidak ada perubahan sama sekali. Stabil disini berarti perubahan-perubahan yang terjadi tidak terlalu menyimpang jauh. Jika suatu faktor mulai menggerakkan kondisi lingkungan internal menjauhi kondisi optimal, maka sistem-sistem dalam tubuh akan memulai reaksi tandingan untuk meminimalisasi perubahan tersebut. Misalnya jika tubuh terpapar pada suhu dingin maka suhu internal tubuh akan cenderung turun. Maka, pusat kontrol di otak akan menanggapinya untuk memulai kompensasi misalnya menggigil untuk meningkatkan suhu tubuh menuju suhu normal. Sebaliknya ketika lingkungan internal tubuh saat cuaca panas misalnya, pusat kontrol suhu akan memicu berkeringat untuk menurunkan suhu tubuh menuju normal.
Banyak faktor dalam lingkungan internal tubuh yang harus dipertahankan. Faktor-faktor tersebut meliputi konsentrasi molekul-molekul nutrien, konsentrasi O2dan CO2, konsentrasi zat sisa, pH, konsentrasi garam, air dan elektrolit lain, volume dan tekanan serta suhu.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Homeostasis adalah keadaan yang relatif konstan di dalam lingkungan internal tubuh. Homeostasis merujuk pada ketahanan atau mekanisme pengaturan lingkungan kesetimbangan dinamis dalam (badan organisme) yang konstan. Homeostasis merupakan salah satu konsep yang paling penting dalam biologi. Bidang fisiologi dapat mengklasifkasikan mekanisme homeostasis pengaturan dalam organisme. Umpan balik homeostasis terjadi pada setiap organisme (Resha,2009).

Contoh homeostasis yang ringkas ialah apabila cuaca panas, sistem kulit akan merespon dengan mengeluarkan peluh melalui kelenjar keringat pada epidermis kulit untuk mencegah suhu darahnya meningkat, pembuluh darah akan mengembang untuk mengeluarkan panas ke sekitarnya, hal ini juga menyebabkan kulit berwarna merah.Homeostasis pada dasar nya adalah untuk menstabilkan cairan di sekitar sel-sel organisme multisel yaitu cairan ekstrasel (CES) yang merupakan interface antara sel dengan lingkungan liar.Oleh karena itu parameter CES yang harus dipertahankan melalui homeostasis adalah :

1.              Kadar Nutrien
2.              Kadar O2 dan CO2
3.              Kadar Sisa Metabolisme
4.              PH
5.              Kadar Air,Suhu,Volume dan Tekanan.

Dalam menyelenggarakan homeostasis ini tubuh harus senantiasa memantau adanya perubahan-perubahan nilai berbagai parameter,lalu mengkoordinasikan respons yang sesuai sehingga perubahan yang terjadi dapat di redam.Untuk itu,sel-sel tubuh harus mampu berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Komunikasi antar sel ini merupakan media yang menopang pengendalian fungsi sel organ tubuh.Pengendalian yang paling sederhana terjadi secara lokal (intrinsik) yaitu yang dilakukan dengan komunikasi antar sel yang berdekatan.Pengendalian jarak jauh (ekstrinsik) lebih kompleks dan dimungkinkan melalui refleks yang dapat melibatkan system syaraf (lengkung refleks) maupun sistem endokrin (umpan balik) (Minarma,2004).

            Homeostasis dipertahankan oleh berbagai proses pengaturan keimbangan yang sangat halus namun bersifat dinamis (dynamic steady state).Macam-macam pengaturan yang terlibat dalam homeostasis itu sendiri meliputi :

1.             Umpan balik positif : Contohnya adalah pada saat demam,badan akan bertambah panas untuk membunuh bakteri dan virus.

2.             Umpan balik negatif : Contoh pada saat keadaan panas,badan akan diatur untuk mengurangi panas badan.

Pengaturan juga tidak hanya melalui umpan balik,tetapi dapat juga bersifat kedepan (feed forward control) yang memungkinkan tubuh mengantisipasi perubahan yang akan datang.Bahkan besar respons juga dapat dimodulasi melalui up-regulation atau down-regulation jumlah dan /atau kinerja reseptor sel (Resha,2009).

Sistem-sistem yang terlibat dalam homeostasis meliputi: transportasi,perolehan sumber nutrien, pembuangan sisa metabolisme, kontrol oleh saraf dan hormon, dan reproduksi.


BAB II
PEMBAHASAN

  1. PENGERTIAN
              
Homeostasis berasal dari bahasa Yunani : homeo berarti “sama”, stasis “mempertahankan keadaan”, sehingga dapat diartikan sebagai suatu keadaan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi segala kondisi yang dihadapi. Istilah ini digunakan oleh ahli fisiologi untuk menjelaskan pemeliharaan aneka kondisi yang hampir selalu konstan di lingkungan dalam.

                                    Homeostasis dipertahankan oleh mekanisme fisiologis yang mengontrol fungsi tubuh dan memantau organ tubuh. Untuk sebagian besar mekanisme ini dikontrol oleh sistem saraf dan endokrin dan tidak mencakup perilaku sadar. Tubuh membuat penyesuaian dalam frekuensi jantung, frekuensi pernapasan, tekanan darah, suhu tubuh, keseimbangan cairan dan elektrolit, sekresi hormon dan tingkat kesadaran yang semuanya ditujukan untuk memberi kontribusi bagi homeostasis.


  1. DASAR-DASAR HOMEOSTASIS

            Ahli ilmu faal Amerika Serikat Walter Cannon mengajukan 4 postulat yang mendasari homeostasis, yaitu:

1.      Peran system saraf dalam mempertahankan kesesuaian lingkungan dalam dengan kehidupan.
2.      Adanya kegiatan pengendalian yang bersifat tonik.
3.      Adanya pengendalian yang bersifat antagonistik.
4.      Suatu sinyal kimia dapat mempunyai pengaruh yang berbeda di jaringan tubuh berbeda.


  1. FAKTOR-FAKTOR YANG DIPERTAHANKAN SECARA HOMEOSTATIS

Faktor-faktor lingkungan internal yang harus dipertahankan secara homeostasis, yaitu :

  1. Konsentrasi molekul zat-zat gizi.

Sel-sel membutuhkan pasokan molekul nutrient yang tetap untuk digunakan sebagai bahan bakar metabolic untuk menghasilkan energi. Energy kemudian digunakan untuk menunjang aktifitas-aktifitas khusus dan untuk mempertahankan hidup.

2.      Konsentrasi O2 dan CO2

Sel membutuhkan O2 untuk melakukan reaksi-reaksi kimia yang menarik sebanyak mungkin energi dari molekul nutrien digunakan oleh sel. CO2 yang dihasilkan selama reaksi-reaksi tersebut berlangsung harus diseimbangkan dengan CO2 yang dikeluarkan oleh paru, sehingga CO2 pembentuk asam ini tidak meningkatkan keasaman di lingkungan  internal.
3.      Konsentrasi zat-zat sisa

Berbagai reaksi kimia menghasilkan proiduk-produk akhir yang berefek toksik bagi sel apabila dibiarkan tertimbun melebihi batas tertentu.

4.      pH.

Diantara efek-efek paling mencolok dari p[erubahan keasaman lingkungan cairan internal adalah perubahan mekanisme pembentuk sinyal listrik di sel saraf dan perubahan aktifitas enzim di semua sel.

5.      Konsentrasi air,garam-garam, dan elektrolit-elektrolit lain

Karena konsentrasi relative garam (NaCl) dan air di dalam cairan ekstrasel (lingkungan internal) mempengaruhi berapa banyak air yang masuk atau keluar sel, konsentrasi keduanya diatur secara ketat untuk mempertahankan volume sel yang sesuai. Sel-sel tidak dapat berfungsi secara normal apabila mereka membengkak atau menciut. Elektrolit lain memiliki bermacam-macam fungsi fital lainnya. Sebagai contoh denyut jantung yang teratur bergantung pada konsentrasi kalium di cairan ekstra sel yang relative konstan.

6.      Suhu.

Sel-sel tubuh berfungsi secara optimal dalam rentan suhu yang sempit. Sel-sel akan mengalami perlambatanaktifitas yang hebat apabila suhunya terlalu dingin dan yang lebih buruk protein-protein structural dan enzimatiknya akan terganggu apabila suhunya terlalu panas.

7.      Volume dan tekanan.

Komponen sirkulasi pada lingkungan internal, yaitu plasma, harus dipertahankan pada tekanan darah dan volume yang adekuat agar penghubung vital antara sel dan lingkungan eksternal ini dapat terdistribusi ke seluruh tubuh.

  1. KONTRIBUSI BERBAGAI SISTEM BAGI HOMEOSTASIS
       
Homeostasis sangat penting bagi kelangsungan hidup setiap sel, dan pada gilirannya, setiap sel, melalui aktifitas khususnya masing-masing, turut berperan sebagai bagian dari system tubuh untuk memelihara lingkungan internal yang digunakan bersama oleh semua sel.
    
Terdapat sebelas system tubuh utama, kontribusi terpenting mereka untuk homeostasis dicantumkan sebagai berikut:

  1. Sistem Sirkulasi.

Merupakan system transportasi yang membawa berbagai zat, misalnya zat gizi, O2, CO2, zat-zat sisa,elektrolit, dan hormone dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lainnya.




2.         Sistem Pencernaan

Menguraikan makanan menjadi molekul-molekul kecil zat gizi yang dapat diserap  ke dalam plasma untuk didistribusikan ke seluruh sel. Sel ini juga memindahkan air dan elektrolit dari lingkungan eksternal ke lingkungan internal. System ini mengeluarkan sisa-sisa makanan yang tidak dicerna  ke lingkungan eksternal melalui tinja.

3.      Sistem Respirasi

Mengambil  O2 dari udara dan mengeluarkan CO2 ke lingkungan eksternal. Dengan menyesuaikan kecepatan pengeluaran CO2 pembentuk asam, system respirasi juga penting  untuk mempertahankan pH lingkungan internal yang sesuai.

4.      Sistem Kemih

Mengeluarkan kelebihan garam, air, dan elektrolit lain dari plasma melalui urine, bersama zat-zat sisa selain CO2.

5.      Sistem Rangka

Memberi penunjang dan proteksi bagi jaringan lunak dan organ-organ. System ini juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan kalsium, suatu elektrolit yang konsentrasinya dalam plasma harus dipertahankandalam rentang yang sangat sempit. Bersama dengan system otot , system rangka juga memungkinkan timbulnya gerakan tubuh dan bagian-bagiannya.

6.         Sistem Otot

Menggerakkan tulang-tulang yang melekat kepadanya. Dari sudut pandang homeostasis semata-mata, sistem ini memungkinkan individu mendekati makanan dan menjauhi bahaya. Selain itu, panas yang dihasilkan oleh kontraksi otot penting untuk mengatur suhu. Karena berada di bawah kontrol kesedaran, individu mampu menggunakan otot rangka untuk melakukan bermacam gerakan sesuai keinginan. Gerakan-gerakan tersebut, berkisar dari keterampilan motorik halus yang diperlukan, misalnya untuk menjahit sampai gerakan-gerakan kuat yang diperlukan untuk mengangkat beban, tidak selalu diarahkan untuk mempertahankan homeostasis.

7.         Sistem Integument

Berfungsi sebagai sawar protektif bagian luar yang mencegahcairan internal keluar dari tubuhdan mikroorganisme asing masuk ke dalam tubuh. System ini juga penting dalam mengatur suhu tubuh. Jumlah panas yang dikeluarkan dari permukaan tubuh ke lingkungan eksternal dapat disesuaikan dengan mengatur produksi keringat dan dengan mengatur aliran darah hangat ke kulit.

8.      Sistem Imun

Mempertahankan tubuh dari seranganbenda asing  dan sel-sel tubuh yang telah menjadi kanker. System ini juga mempermudah jalan untuk perbaikan dan penggantian sel yang tua atau cedera.


9.         Sistem Saraf

Merupakan salah satu dari dua system pengatur atau control utama tubuh. Secara umum, system ini mengontrol dan mengkoordinasikan aktifitas tubuhyang memerlukan respon cepat. System ini sangat penting terutama untuk mendeteksidan mencetuskan reaksi terhadap berbagai perubahan di lingkungan internal. Selain itu, system ini akan bertanggung jawab atas fungsi lain yang lebih tinggi yang tidak seluruhnya ditujukan untuk mempertahankan homeostasis, misalnya kesadaran, ingatan, dan kreatifitas.

10.  Sistem Endokrin

Merupakan system kontrol utainnya. Secara umum, kelenjar-kelenjarpenghasil hormone pada system endokrin mengatur aktifitas yang lebih mementingkan daya tahan (durasi) daripada kecepatan. System ini terutama penting untuk mengontrol konsentrasi zat-zat gizi dan dengan menyesuaikan fungsi ginjal, mengontrol volume serta komposisi elektrolit lingkungan internal.

11.  Sistem Reproduksi

System ini tidak esensial bagi homeostasis, sehingga tidak penting bagi kelangsungan hidup individu. Akan tetapi, system ini penting bagi kelangsungan hidupsuatu spesies.




  1. SISTEM CONTROL HOMEOSTASIS

Untuk mempertahankan homeostasis, tubuh harus mampu mendeteksi penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada faktor-faktor lingkungan internal yang perlu dijaga dalam retang yang sempit. Tubuh juga harus mampu mengontrol berbagai sistem tubuh yang bertanggung jawab untuk menyesuaikan faktor-faktor itu.

Sebagai contoh, untuk mempertahankan konsentrasi CO2 di cairan ekstrasel pada kadar yang optimal, tubuh harus mampu mendeteksi adanya perubahan pada konsentrasi CO2 dan kemudian dengan tepat mengubah aktifitas pernapasan, sehingga konsentrasi CO2 kembali ke tingkat yang diinginkan.

Sistem control yang beroperasi untuk mempertahankan homeostasis dapat dikelompokkan menjadi dua kelas, yaitu:

    1. Control intrinsic

Control intrinsik (local, intrinsic berarti ”di dalam”) terdapat di dalam atau inheren bagi organ yang bersangkutan. Sebagai contoh, sewaktu suatu otot yang beraktifitas menggunakan O2 dan mengeluarkan CO2  untuk menghasilkan energy yang diperlukan untuk menjalankan aktifitas kontraktilnya, konsentrasi O2 turun dan CO2 meningkat di dalam otot tersebut.

Melalui kerja langsung pada otot polos di dinding pembuluh darah yang mengaliri otot-otot tersebut, perubahan-perubahan kimiawi local tersebut menyebabkan otot polos melemas dan pembuluh terbuka lebar untuk mengakomodasikan peningkatan aliran darah ke otot tersebut. Mekanisme local ini ikut berperan mempertahankan kadar O2 dan CO2 yang optimal di dalam lingkungan cair internal yang mengelilingi sel-sel otot tersebut.

    1. Control ekstrinsik

Control ekstrinsik (extrinsic berarti “di luar”), yaitu mekanisme pengatur yang dicetuskan di luar suatu organ untuk mengubah aktifitas organ tersebut. Control ekstrinsik berbagai organ dan system dilaksanakan oleh system saraf dan endokrin, dua sistem kontrol utama pada tubuh.

Control ekstrinsik memungkinkan pengaturan beberapa organ sekaligus untuk mencapai suatu tujuan bersama; sebaliknya, control intrinsic berfungsi untuk melayani organ tempat control tersebut bekerja. Mekanisme pengaturan keseluruhan yang terkoordinasikan penting untuk mempertahankan keadaan stabil dinamis lingkungan internal secara keseluruhan.


  1. HOMEOSTASIS FISIOLOGIS

Homeostasis fisiologis dalam tubuh manusia dapat dikendalikan oleh sistem endokrin dan saraf otonom. Prosesnya terjadi melalui empat cara, yaitu :

    1. Self Regulation

Sistem ini terjadi secara otomatis pada orang yang sehat. Contohnya : proses pengaturan fungsi organ tubuh

    1. Kompensasi

Tubuh akan cenderung bereaksi terhadap ketidaknormalan yang terjadi didalamnya. Misalnya apabila secara tiba – tiba lingkungan menjadi dingin, maka pembuluh darah perifer akan mengalami konstriksi dan merangsang pembuluh darah bagian dalam untuk meningkatkan kegiatan (misalnya menggigil) yang dapat menghasilkan panas sehingga suhu tubuh tetap stabil, pelebaran pupil untuk meningkatkan persepsi visual pada saat terjadi ancaman terhadap tubuh, dan peningkatan keringat untuk mengontrol kenaikan suhu tubuh.

    1. Umpan Balik Negatif

Proses ini merupakan penyimpangan dari keadaan normal. Dalam keadaan abnormal, tubuh secara otomatis akan melakukan mekanisme umpan balik untuk menyeimbangkan penyimpangan yang terjadi.





    1. Umpan Balik untuk Mengoreksi Ketidakseimbangan Fisiologis

Contoh, apabila seseorang mengalami hipoksia akan terjadi proses peningkatan denyut jantung untuk membawa darah dan oksigen yang cukup ke sel tubuh.

  1. TAHAPAN-TAHAPAN HOMEOSTASIS

Homeostasis terdiri dari 3 tahap:

    1. Homeostasis primer.

Jika terjadi desquamasi dan luka kecil pada pembuluh darah, akan terjadi homeostasis primer. Homeostasis primer ini melibatkan tunika intima pembuluh darah dan trombosit. Luka akan menginduksi terjadinya vasokonstriksi dan sumbat trombosit.

Homeostasis primer ini bersifat cepat dan tidak tahan lama. Karena itu, jika homeostasis primer belum cukup untuk mengkompensasi luka, maka akan berlanjut menuju homeostasis sekunder.

    1. Homeostasis Sekunder.

Jika terjadi luka yang besar pada pembuluh darah atau jaringan lain, vasokonstriksi dan sumbat trombosit belum cukup untuk mengkompensasi luka ini. Maka, terjadilah hemostasis sekunder yang melibatkan trombosit dan faktor koagulasi.

Homeostasis sekunder ini mencakup pembentukan jaring-jaring fibrin. Homeostasis sekunder ini bersifat delayed dan long-term response. Kalau proses ini sudah cukup untuk menutup luka, maka proses berlanjut ke homeostasis tersier.

    1. Homeostasis Tersier.

Homeostasis tersier ini bertujuan untuk mengontrol agar aktivitas koagulasi tidak berlebihan. Homeostasis tersier melibatkan sistem fibrinolisis.


  1. KETIDAKSEIMBANGAN HOMEOSTASIS

Jika satu atau lebih sistem tubuh gagal berfungsi secar benar, homeostasis terganggu dan semua sel akan menderita karena mereka tidak lagi memperoleh lingkungan yang optimal tempat mereka hidup dan berfungsi. Muncul beberapa keadaan patofisiologis. Patofisiologis mengacu kepada abnormalitas fungsional tubuh (perubahan fisiologi) yang berkaitan dengan penyakit. Jika gangguan terhadap homeostasis menjadi sedemikian berat sehingga tidak lagi memungkinkan kelangsungan hidup, timbul kematian.

Hampir semua penyakit merupakan kegagalan tubuh mempertahankan homeostasis. Keberadaan seseorang dilingkungan sangat dingin tanpa pakaian dan perlindungan dapat berakibat fatal jika tubuhnya gagal mempertahankan suhu sehingga suhu tubuh turun. Hal ini disebabkan oleh terganggunya proses-proses enzimatik sel yang sangat bergangtung pada suhu tertentu.

Contoh lain adalah kaehilangan drh dalam jumlah yang kecil mungkin tidak fatal karena tubuh masih mampu mengkompensasi kehilangan tersebut dengan cara meningkatkan tekanan darah mereabsorpsi cairan di ginjal dsb. Tetapi bila kehilangan darah terjadi dalam jumlah yang besar, upaya untuk mengkompensasi tubuh mungkin tidak memadai sehingga berakibat fatal.

Tanggung jawab dokter dan para medis adalah untuk perawatan intensif untuk pasien-pasien yang gawat. Berbagai indicator homeostasis akan dipantau di unit intensif seperti frekuensi denyut jantung, tekanan darah, frekuensi pernapasan, suhu tubuh, kimia darah, dan mengatur keluarnya cairan tubuh. Tujuan unit adalah untuk mengambil alih fungsi homeostasis yang tidak dapat dilaksanakan oleh pasien yang sedang sakit parah sahingga tidak mampu melakukan proses homeostasis sendiri.



BAB III
KESIMPULAN

Kesimpulan

Kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut :

·         Homeostasis merupakan proses pengaturan lingkungan kesetimbangan yang dinamis dalam (badan organisme) yang konstan.

·         Organ-organ yang terlibat dalam pengaturan homeostasis antara lain:
Ø        Hati
Ø        Ginjal
Ø        Kulit

·         Homeostasis tergantung pada interaksi dan tindakan yang dinamis sejumlah badan system, Faktor yang mempengaruhi seperti :
Ø  Temperatur
Ø  Kadar garam dan keasaman dalam tubuh

·         Bahan gizi yang berlebih dan mempengaruhi kemampuan organisme untuk   menopang hidup.


DAFTAR PUSTAKA



Agung. 2008. HOMEOSTASIS suatu pengantar. http//www.scrib.com. Jumat, 19 September 2008

Guy Ton, Arthur C., Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Ed.11. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Pramita, Aam Citrida. 2007. Kebutuhan Dasar Manusia. Palembang : Poltekkes Depkes Palembang.

Raharja, Kirana. 2007. Obat-Obat Penting. Jakarta : PT Alex Media Komputindo

Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia Dari Sel Ke Sistem. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC


Siagian, Minarma. 2004. HOMEOSTASIS: Keseimbangan yang Halus dan Dinamis. Jakarta : Departemen Ilmu   

Laporan Anfisman : Sistem Reproduksi

PRAKTIKUM ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA

SISTEM REPRODUKSI

Nama Kelompok 3 :
Cahya Aulia
Eka Fitri Andriani
Musfiroh
Nina Kurniawati
Ni Made Yulianda
KELAS : 2K
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS FARMASI DAN SAINS
UNIVEARSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
JAKARTA
2013
BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Sistem reproduksi adalah sistem yang berfungsi untuk berkembang biak. Terdiri dari testis, ovarium dan bagian alat kelamin lainnya. Reproduksi atau perkembangbiakan merupakan bagian dari ilmu faal (fisiologi). Reproduksi secara fisiologis tidak vital bagi kehidupan individual dan meskipun siklus reproduksi berhenti,tetapi makhluk tersebut masih dapat bertahan hidup. Organ reproduksi membentuk apa yang dikenal dengan traktus genitalis,yang berhubungan dengan traktus urinarius. Pada lelaki kedua traktus itu berhubungan erat. Pada perempuan meskipun traktus genitalis dan urinarius berhubungan erat akan tetapi tidak bersambung. Traktus genitalis wanita bersambung dengan rongga peritonium. Organ perkembangbiakan wanita terletak dalam panggul kecil,organ laki-laki sebagian besar diluar pelvis.



















BAB II
Tinjauan pustaka

  1. Sistem reproduksi wanita
Sistem reproduksi wanita meliputi organ reproduksi, oogenesis, hormon pada wanita, fertilisasi, kehamilan, persalinan dan laktasi. Organ reproduksi wanita terdiri dari organ reproduksi dalam dan organ reproduksi luar. Organ reproduksi dalam wanita terdiri dari ovarium dan saluran reproduksi (saluran kemih).
Ovarium (indung telur) berjumlah sepasang,berbentuk oval dengan panjang 3-4cm. ovarium berada di dalam rongga badan, di daerah pinggang,umumnya setiap ovarium menghasilkan ovum setiap 28hari. Ovum yang dihasilkan ovarium akan bergerak ke saluran reproduksi. Fungsi ovarium yakni menghasilkan ovum (sel telur) serta hormon estrogen dan progesteron.
Saluran reproduksi (saluran kelamin) terdiri dari tuba falopi,uterus dan vagina. Tuba falopi atau saluran telur berjumlah sepasang (di kanan dan kiri ovarium) dengan panjang sekitar 10cm. bagian pangkal oviduk berbentuk corong yang disebut infundibulum. Pada infundibulum terdapat jumbai-jumbai (fimbrae). Fimbrae berfungsi menangkap ovum yang dilepaskan oleh ovarium. Ovum yang ditangkap oleh infundibulum akan masuk ke oviduk. Oviduk berfungsi untuk menyalurkan ovum dari ovarium menuju uterus.
Uterus (kantung peranakan) atau rahim merupakan ronggs pertemuan oviduk kanan dan kiri yang berbentuk seperti buah pir dan bagian bawahnya mengecil yang disebut serviks (leher rahim). Uterus manusia berfungsi sebagai tempat perkembangan zigot apabila terjadi fertilisasi. Uterus terdiri dari dinding berupa lapisan jaringan yang tersusun dari beberapa lapis otot polos dan lapisan endometrium. Lapisan endometrium (dinding rahim) tersusun dari sel-sel epitel dan membatasi uterus. Lapisan endometrium menghasilkan banyak lendir dan pembuluh darah. Lapisan endometrium akan menebal pada saat ovulasi (pelepasan ovum dari ovarium) dan akan meluruh pada saat menstruasi.
Vagina merupakan saluran akhir dari saluran reproduksi bagian dalam pada wanita. Vagina bermuara pada vulva vagina memiliki dinding yang berlipat-lipat dengan bagian terluar berupa selaput berlendir,bagian tengah berupa lapisan otot dan bagian terdalam berupa jaringan ikat berserat. Selaput berlendir (membrane mukosa) menghasilkan lendir pada saat terjadi rangsangan seksual. Kelenjar tersebut dihasilkan oleh kelenjar bartholin. Jaringan otot dan jaringan ikat berserat bersifat elastis yang berperan untuk melebarkan uterus saat janin akan dilahirkan dan akan kembali ke kondisi semula setelah janin dikeluarkan.
Organ reproduksi luar pada wanita berupa vulva. Vulva merupakan celah paling luar dari organ kelamin wanita. Vulva terdiri dari mons pubis. Mons pubis (mons veneris) merupakan daerah atas dan terluar dari vulva yang banyak mengandung jaringan lemak. Pada masa pubertas daerah ini mulai ditumbuhi oleh rambut. Dibawah mons pubis terdapat lipatan labium mayor (bibir besar) yang berjumlah sepasang. di dalam labium mayor terdapat labium minor (bibir kecil) yang berjumla sepasang.
Labium mayor dan labium minor berfungsi untuk melindungi vagina. Gabungan labium mayor dan labium minor pada bagian atas labium membentuk tonjolan kecil yang disebut klitoris. Klitoris merupakan organ erektil yang dapat disamakan dengan penis pada pria. Meskipun klitoris tidak sama percis dengan penis,namun klitoris juga mengandung korpus kavernosa. Pada klitoris terdapat banyak pembuluh darah dan ujung-ujung saraf perasa. Pada vulva bermuara dua saluran,yaitu saluran uretra (saluran kencing)dan saluran kelamin (vagina). Pada daerah dekat saluran ujung vagina terdapat hirmen atau selaput dara. Hymen merupakan selaput mukosa yang banyak mengandung pembuluh darah.
  1. Sistem reproduksi pria
Sistem reproduksi pria meliputi organ-organ reproduksi, spermatogenesis dan hormon pada pria. Organ reproduksi pria terdiri atas organ reproduksi dalam dan organ reproduksi luar. Organ reproduksi dalam pria terdiri atas testis, saluran pengeluaran dan kelenjar asesoris. 



BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

A.   Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 04 April 2013, pukul 13.00 – 15.20 WIB, dan bertempat di Laboratorium Anatomi Fisiologi Manusia, Fakultas Farmasi dan Sains, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka.

B.   Alat

Alat yang digunakan untuk praktikum ini adalah :

1.      Alat peraga
2.      Alat tulis

C.   Bahan

Bahan yang digunakan untuk praktikum ini adalah :

1.      Alat peraga reproduksi pria
2.      Alat peraga reproduksi wanita

D.   Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah, sebagai berikut :

1.      Menyediakan alat dan bahan yang akan digunakan
2.      Mengamati alat peraga serta menyebutkan bagian-bagian serta fungsinya




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.   Hasil

1.  Organ reproduksi wanita



Keterangan
è Osteo secral
Untuk menyangga bagian pinggul

è Ureter
Untuk mendorong urin dari ginjal ke kandung kemih

è Fimbrae
Untuk menangkap sel ovum yang telah matang
è Tuba Falopi
Saluran yyang membawa ovum
è Ovarium
Tempat memproduksi sel telur dan tempat perkembangan janin
è Ligament ovarium
Untuk mrngikat organ-organ reproduksi dan mempertahankan ovarium
è External illiac vessels
Pembuluh darah yang membantu ovarium
è Vena
Mengalirkan darah ke ovarium
è Primetrium
Sebagai pelindung uterus
è Myommetrium
Untuk kontraksi dan relaksasi uterus
è Liang serviks
Saluran untuk kluarnya janin
è Serviks
Tempat keluarnya janin
è Kandung kemih
Tempat menampung urin sementara
è Tulang kemaluan
Di depan kandung kemih
è Uretra
Membawaurin dari kandung kemih keluar
è Klitoris
Saraf rangsangan

è External uretra
Tempat keluarnya urin
è Labium minora
Untuk menutup organ genetal didalamnya
è Labium mayora
Untuk menutup organ genital didalamnya
è Lubang vagina
Tempat masuknya sperma dan keluarnya janin
è Badan uterus
è Sigmoid kolon
Mengeluarkan sisa makanan
è Rektum
Tempat terakhir usus besar
è Vagina
Tempat keluarnya darah mensuntrasi dan tempat lahirnya bayi
è Anus
Tempat keluarnya feses








2. Organ reproduksi pria

Keterangan :

è Tulang penyangga
Untuk menyangga pinggul
è Ureter
Membawa urin dari ginjal ke kandung kemih
è Sigmoid kolon
Mengeliminasi zat sisa makanan
è Kandung kemih
Tempat urin sementara
è Sub mukosa
Memproduksi sekresi aralis dan untuk melindungi usus 12 jari
è External illiac
Pembuluh darah
è Kelenjar prostat
Untuk memberikan suasana basah dan menghasilkan getah

è Vas diferens (saluran sperma)
Saluran jalannya sperma dari epididemis ke kandung semen
è Uretra
Saluran pembuangan urin dan membawa sperma
è Penis
Untuk menyampaikan sperma ke organ reproduksi wanita
è Prepusium (foreskin)
Untuk melindungi glanpenis
è Corpus kofernosum
Jaringan spons yang membantu ereksi
è Corpus spongiosum
Jaringan spons yang berfungsi merespon rangsangan
è Orificlum uretra
Tempat keluarnya urin
è Testis
Memproduksi sperma dan testosteron dan untuk mengeluarkan sifat-sifat sekunder pada pria
è Skrotum (kantung sperma)
Untuk melindungi ttestis dan mengatur suhu
è Anus
Saluran pengeluaran feses
è Kelenjar bulbu uuretra
Mengekskresi cairan agarr sperma lebih tahan hidup
è Tulang ekor
Untuk menyngga tulang sekitar panggul
è Rektum
Bagian terakhir usus besar dan tempat feses sementara
è Vesicular seminalis
Untuk mengekskresi cairan semen dan sumber energi spermatozoa
è Ductus ejakulatoris
Untuk keluarnya sperma agar masuk kedalam uretra

è Kepala sperma
Untruk mencari sel ovum

B.   Pembahasan

Sistem reproduksi adalah sistem yang berfungsi untuk berkembang biak. Reproduksi atau perkembangbiakan merupakan bagian dari ilmu faal (fisiologi). Reproduksi secara fisiologis tidak vital bagi kehidupan individual dan meskipun siklus reproduksi berhenti, tetapi makhluk tersebut masih dapat bertahan hidup. Organ reproduksi membentuk apa yang dikenal dengan traktus genitalis yang berhubungan dengan traktus urianius.

Pada lelaki kedua traktus itu berhubungan erat. Pada perempuan meskipun traktus genitalis dan urianius berhubungan erat akan tetapi tidak bersambung. Traktus genitalis wanita bersambung dengan rongga peritonium. Organ perkembangbiakan wanita terletak dalam panggul kecil, organ laki-laki sebagian besar diluar pelvis.

Reproduksi seksual tidak saja bermakna bagi kelangsungan hidup suatu spesies,tetapi juga berarti bahwa keturunan yang dihasilkan memiliki sifat atau karakter yang berbeda dari induknya. Hal itu disebabkan pada waktu fertilisasi terjadi kombinasi sifat-sifat menurun melalui inti sel kelamin dari dua induk yang berbeda. Sebelum terjadi fertilisasi didahului proses pembentukan gamet. Pada manusia,pembentukan sel kelamin atau gamet terjadi di dalam alat kelamin yang disebut gonad, ada gonad jantan dan ada gonad betina. Gonad jantan dikenal dengan istilah testis dan gonad betina dikenal dengan nama ovarium. Proses pembentukan sel kelamin tersebut dikenal dengan gameto genesis yang terdiri atas spermatogenesis dan oogenesis.
1.       Spermatogenesis

Spermatogenesis merupakan proses pembentukan spermatozoa yang berlangsung didalam kelenjar kelamin jantan (testis). Spermatozoa yang terbentuk berasal dari sel pembentuk sperma yang terdapat didalam testis (sel spermatogonium).

Mula-mula sel spermatogonium didalam testis berulangkali membelah secara mitosis sehingga terbentuklah beberapa sel spermatogonium yang baru. Selanjutnya,setiap sel spermatogonium tersebut tumbuh menjadi sel yang lebih besar, disebut spermatosit primer. Dalam perkembangannya, spermatosit primer membelah secara meiosis sehingga terbentuk dua buah spermatosit sekunder. Masing-masing spermatosit sekunder kemudian membelah secara meiosis dan menghasilkan empat buah spermatid yang bersifat haploid(n) karena hanya mengandung setengah jumlah kromosom sel induknya. Pada akhirnya, melalui tahap-tahap perkembangan tertentu, intisel spermatid mengecil sehingga terbentuklah spermatozoa yang siap melakukan pembuahan.

2.       Oogenesis

Oogenesis merupakan proses pembentukan sel telur atau ovum didalam indung telur atau ovarium. Sel telur berasal dari sel oogonium didalam ovarium. Sama seperti halnya pada proses pembentukan spermatozoa, oogenesis diawali dengan adanya pembelahan mitosis yang berlangsung beberapa kali pada sel oogonium sehingga terbentuk beberapa sel oogonium yang bersifat diploid.
Selanjutnya, setiap sel oogonium baru yang terbentuk mengalami pertumbuhan menjadi oosit primer. Dalam perkembangannya, oosit primer membelah secara meiosis menjadi dua sel yang tidak sama ukurannya karena sitoplasma selnya terbagi dua bagian yang tidak sama. Satu sel yang besar mengandung inti sel (nukleus) dan sitoplasma disebut dengan oosit sekunder,sedangkan satu sel lain yang lebih kecil hanya mengandung inti sel saja,disebut badan kutub primer (polosit I).
Pada akhirnya, oosit sekunder membelah secara meiosis menjadi dua sel yang juga tida sama besar ukurannya. Sel yang besar disebut ootid dan akan berkembang menjadi sel telur, sedangkan sel yang kecil disebut dengan badan kutub sekunder (polosit II) yang kemudian akan terserap kembali oleh dinding ovarium.
Jika terjadi perkawinan antara induk jantan dan induk betina, maka berlangsunglah proses fertilisasi yang akan menghasilkan zigot. Selanjutnya,zigot membelah secara mitosis dan setelah melalui tahap perkembangan tertentu berubah menjadi embrio. Pada akhirnya, embrio tumbuh dan berkembang menjadi individu baru dengan sifat yang bervariasi di antara kedua induknya. Dengan demikian, makin jelaslah bahwa dengan adanya proses pembelahan secara meiosis, sifat dari suatu individu (suatu jenis organisme) tetap terjaga dari generasi ke generasi berikutnya sehingga kelestarian jenisnya pun ikut terjaga dari bahaya kepunuhan.

Fertilisasi

Sel telur dibentuk pada ovarium. Setiap bulan, satu ovarium melepaskan telur. Biasanya hanya satu sel telur yang dilepaskan setiap kurang lebih 28 hari. Ovarium itu biasanya secara bergantian melepaskan melepaskan sel telur. Peristiwa pelepasan sel telur dari ovarium disebut ovulasi. Pada saat terlepas dari ovarium,telur bergerak menuju saluran yang disebut oviduk,yaitu organ yang terbentuk saluran yang menghubungkan antara ovarium dan rahim (uterus).
 Pada waktu kontak seksual (kovulasi) terjadi, sperma akan disuntikan oleh serangkaian otot yang mengalami kontraksi dari uretra laki-laki menuju ke vagina perempuan. Meskipun jumlah sperma mencapai jutaan yang dapat masuk ke dalam vagina, tetapi yang sampai ke uterus hanya beberapa ratus saja. Beberapa sperma itu seterusnya akan masuk ke oviduk dan proses fertilisasi akan terjadi jika didalam oviduk ada sel telur yang sudah siap di buahi. Meskipun demikian hanya satu sperma yang dapat melakukan fertilisasi. Sperma yang sampai pada sel telur akan melakukan penetrasi. Sel sperma dan sel telur  yang tadinya bersifat haploid setelah bergabung (fertilisasi) akan menjadi zigot yang diploid.

 Setelah terjadi fertilisasi, telur yang telah dibuahi menjadi embrio. Setelah lima hari (120 jam) dari fertilisasi, embrio bergerak dari oviduk menuju ke uterus. Selanjutnya,embrio menempel pada dinding uterus.  Di tempat ini embrio akan berkembang biak selama 40 minggu untuk menjadi bayi.



 Siklus menstruasi

Umumnya siklus menstruasi terjadi secara periodik setiap 28 hari (adapula setiap 21 hari dan 30 hari) yaitu sebagai berikut:
pada hari 1-14 terjadi pertumbuhan dan perkembangan folikel primer yang dirangsang oleh hormon FSH. Pada saat tersebut sel oosit primer akan membelah dan menghasilkan ovum yang haploid. Saat folikel berkembang menjadi folikel de graaf yang matang. Folikel ini juga menghasilkan hormon estrogen yang merangsang keluarnya LH dari hipofisis. Estrogen yang keluar berfunsgsi merangsang perbaikan dinding uterus yaitu endometrium yang habis terkelupas waktu menstruasi,selain itu estrogen menghambat pembentukan FSH dan memerintahkan hipofisis menghasilkan LH yang berfungsi merangsang folikel de graaf yang masak untuk mengadakan ovulasi yang terjadi pada hari ke-14, waktu disekitar terjadinya ovulasi disebut estrus. Selain itu, LH merangsang folikel yang telah kosong untuk berubah menjadi badan kuning (corpus luteum). Badan kuning menghasilkan hormon progesteron yang berfungsi mempertebal lapisan endometrium yang kaya dengan pembuluh darah untuk mempersiapkan datangnya embrio disebut menstruasi.




Penyakit pada Sistem Reproduksi

Seperti sistem tubuh yang lain, sistem reproduksi pada manusia dapat pula di infeksi oleh mikrob. Mikrob tersebut dapat menyerang pada saat terjadi kontak antara orang yang satu dan yang lain selama kontak seksual. Penyakit yang di sebarkan melalui kontak seksual disebut penyakit seksual.

Apa saja mikroba yang menyebabkan penyakit seksual ini? Penyakit Gonore, Klamidia, Sifilis adalah penyakit yang di sebabkan bakteri sedangkan AIDS ( Acquired Immune Deficienci Syndrome ) dan Herpes di sebabkan oleh virus.

Penyakit Gonore, Sifilis dan Klamidia dapat diobati dan di sembuhkan dengan antibiotik. AIDS dan Herpes sangan sulit di sembuhkan.

Penyakit Kelamin dan Gejalanya

1.       Gonore ( kencing nanah )

Gejala :
- perempuan : keluarnya nanah yang berasal dari vagina dan saluran urine tidak muncul gejala pada beberapa perempuan.
- laki-laki : keluarnya nanah dari penis saluran urine.
Masalah :
- perempuan : kebersihan pada saat kelahiran baru terinfeksi dari ibunya selama kelahiran.
- laki-laki : infeksi pada testis.

2.       Klamidia ( klamidiasis)

Gejala : seperti pada perempuan gonore, tidak tampak gejalanya 70 % pada perempuan, 10 % pada laki-laki.
Masalah :
- perempuan : kebersihan masalah pada saat kehamilan.
- laki-laki : kebersihan pada laki-laki.



3.       Sifilis ( raja singa )

Gejala : luka pada vagina atau penis.
Masalah : membahayakan jantung dan otak melalui ibu yang di tularkan melalui vetusnya.

4.       Herpes ( DHAB )

Gejala : luka pada vagina atau penis seperti bercak bercak yang menyerang alat kelamin manusia.
Masalah : melalui proses kelahiran infeksi berasal dari ibu selama kelahiran.

5.      Kandida ( keputihan )

Gejala : infeksi pada dinding vagina.
Masalah : kurang menjaga kebersihan diri.

6.      AIDS

Gejala : rusaknya sel darah putih, pertahanan tubuh melemah.
Masalah : merusaknya sistem kekebalan tubuh, kanker, paru-paru, kejadian fatal selama sakit.




BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Proses pembentukan sel kelamin dikenal dengan istilah gametogenesis yang terdiri atas spermatogenesis dan oogenesis. Spermatogonesis merupakan proses pembentukan spermatozoa. Oogenesis merupakan proses pembentukan ovum
  1. Alat perkembangan biakan pada manusia berfungsi optimal setelah masa usia tertentu (masa puber).
  2. Tahapan reproduksi pada manusia adalah ovarium menghasilkan sel telur dan testis menghasilkan sel sperma. Jika terjadi fertilisasi, yaitu terjadinya pertemuan sel telur dengan sel sperma di oviduk maka sel telur yang telah dibuahi berkembang menjadi embrio dan bergerak ke uterus selanjutnya terus berkembang di dalam uterus hingga menjadi bayi.
  3. Embrio sebelum menjadi bayi mempunyai beberapa kebutuhan ,seperti perlindungan ,makanan, oksigen dan pembuangan sisa metabolisme.
  4. Penyakit pada sistem reproduksi seperti gonore, klamedia,sifilis dan herpes
  5. AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh human immunodeficiency virus (HIV)




DAFTAR PUSTAKA

Frandson, 1992. Anatomi dan fisiologi ternak.gadjah mada university press.yogyakarta.
Kelley, R., 1995. Histologi dasar . EGC. Jakarta.
Pearce, E.,2004. Anatomi dan fisiologi manusia untuk paramedis. Gramedia pustaka utama.jakarta
Syaifuddin,2006. Anatomi dan fisiologi untuk mahasiswa keperawatan. Buku kedokteran EGC. Jakarta .
Ganery,A.1995.Tubuh Manusia .Dalam ilmu pengetahuan.terjemahan lina.human body.semarang:PT mandiri jaya abadi.

Parker,S.2000. Tubuh manusia. Dalam seri jendela IPTEK. terjemahan pusat penerjemahan.FS UI.Jakarta:PT balai pustaka